Just another WordPress.com site

RESEP AYAM PEDAS

 

Bahan  –   bahannya :

  1. 1.    Ayam yang sudah dipotong – potong      :  1 kg
  2. 2.    Garam dan minyak goring / migor          :  secukupnya
  3. 3.    Bawang merah diiris tipis                          :  8  siung
  4. 4.    Bawang putih diiris tipis                           :  2  siung
  5. 5.    Cabe merah                                    :  7 buah
  6. 6.    Cabe rawit                                               :  5 biji       
  7. 7.    Santen kelapa                                  :  3 gelas
  8. 8.    Sereh memar                                  :  1 batang
  9. 9.    Kemiri                                           :  8 biji

10. Pala                                               :  2 cm

11. Ketumbar                                                :  1 sdm

  1. 12.  Laos                                             :  2 cm
  2. 13.  Jahe                                              :  2 cm

 

 

 

Cara Memasak ayam Pedes  :

  1. 1.    Bumbu diuleg dan di campur jadi satu kecuali sereh dipeprek
  2. 2.    Bumbu yang sudah di uleg tadi lalu di goreng / tumis dan sereh sampai masak agak kemerah-merahan dan bau harum.
  3. 3.    Masukan daging ayam di godok sampe tanek lalu bumbu yg sdh ditumis  di masukan dan aduk-aduk sebentar.
  4. 4.    Masukan santan sampai mendidih mengental kasih bumbu penyedap, garam, gula pasir secukupnya.
  5. 5.    Angkat masakan Ayam pedes setelah dicicipin.

 

MELAKUKAN ANALISIS PEMBELAJARAN

 

 

Pendahuluan

Mengapa pembelajaran? Ada beberapa alasan yang melatar belakanginya; Pertama adanya kenyataan/hasil yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Kedua, adanya perubahan lingkungan/suasana kerja yang diakibatkan oleh modifikasi prosedur atau instalasi peralatan yang baru. Ketiga, perkembangan perusahaan atau industri yang begitu pesat sehingga SDM perlu ditingkatkan.

Menganalisa kebutuhan pembelajaran dan analisis pembelajaran dalam desain sistem pembelajaran merupakan langkah awal yang harus dilakukan dalam kegiatan desain pembelajaran, ketika menghadapi masalah tentang pembelajaran.

Proses desain sebuah pembelajaran dimulai dengan identifikasi masalah atau kebutuhan pembelajaran dan analisis pembelajaran. Kedua kegiatan merupakan rangkaian erat yang secara berurutan dan bersama-sama untuk dikerjakan sebelum pendesain merancang pembelajaran, sedang analisis pembelajaran bentuk penjabaran perilaku umum menjadi perilaku khusus yang tersusun secara logis dan sistematis.

Ada tiga pendekatan yang berbeda dalam mengidentifikasi masalah-masalah pembelajaran; Analisa kebutuhan, Analisa tujuan dan analisa proses/hasil/pelaksanaan

 

Menganalisis Kebutuhan Pembelajaran.

 

A. Konsep Kebutuhan Pembelajaran

Kesenjangan adalah sebuah permasalahan yang harus dipecahkan karena itu kesenjangan dijadikan suatu kebutuhan dalam merancang pembelajaran, sehingga pembelajaran yang dilaksanakan merupakan solusi terbaik. Bila kesenjangan tersebut dan menimbulkan efek yang besar, maka perlu diprioritaskan dalam pengatasan masalah (Dick and Carey : 1990,15 – 27 ), mencampuradukkan antara kebutuhan dan keinginan diidentikkan adalah hal yang keliru sebab menurut M. Atwi Suparman (2001 : 63) kebutuhan adalah kesenjangan antara keadaan sekarang dengan yang seharusnya dalam redaksi yang berbeda tapi sama. Morrison (2001: 27), mengatakan bahwa kebutuhan (need) diartikan sebagai kesenjangan antara apa yang diharapkan dengan kondisi yang sebenarnya, keinginan adalah harapan ke depan atau cita-cita yang terkait dengan pemecahan terhadap suatu masalah. Sedangkan analisa kebutuhan adalah alat untuk mengidentifikasi masalah guna menentukan tindakan yang tepat. (Morrison, 2001: 27)

Oleh karena itu Kaufman (1982) mengajak kita meyakini betul apa masalah yang kita hadapi (M. Atwi Suparman: 2001-63), maka jika kita mengajar hendaknya kita mengajukan kepada diri kita suatu pertanyaan apakah pemberian pembelajaran itu dapat memecahkan masalah? Pertanyaan- pertanyaan senada antara lain:

1. Apa kebutuhan yang dihadapi.

2. Apakah kebutuhan tersebut merupakan masalah.

3. Apa penyebabnya.

4. Apakah pemberian pelajaran merupakan cara yang tepat untuk memecahkan masalah.

Morrison (2001: 27) membagi fungsi analisa kebutuhan sebagai berikut:

1. Mengidentifikasi kebutuhan yang relevan dengan pekerjaan atau tugas sekarang yaitu masalah apa yang mempengaruhi hasil pembelajaran.

2. Mengidentifikasi kebutuhan mendesak yang terkait dengan finansial, keamanan atau masalah lain yang menggangu pekerjaan atau lingkungan pendidikan

3. Menyajikan prioritas-prioritas untuk memilih tindakan.

4. Memberikan data basis untuk menganalisa efektifitas pembelajaran.

Ada enam macam kebutuhan yang biasa digunakan untuk merencanakan dan mengadakan analisa kebutuhan (Morrison, 2001: 28-30).

1. Kebutuhan Normatif

Membandingkan peserta didik dengan standar nasional, misal, Ebtanas, UMPTN, dan sebagainya.

2. Kebutuhan Komperatif, membandingkan peserta didik pada satu kelompok dengan kelompok lain yang selevel. Misal, hasil Ebtanas SLTP A dengan SLTP B.

3. Kebutuhan yang dirasakan, yaitu hasrat atau kinginan yang dimiliki masing-masing peserta didik yang perlu ditingkatkan. Kebutuhan ini menunjukan kesenjangan antara tingkat ketrampilan/kenyataan yang nampak dengan yang dirasakan. Cara terbaik untuk mengidentifikasi kebutuhan ini dengan cara interview.

4. Kebutuhan yang diekspresikan, yaitu kebutuhan yang dirasakan seseorang mampu diekspresikan dalam tindakan. Misal, siswa yang mendaftar sebuah kursus.

5. Kebutuhan Masa Depan, Yaitu mengidentifikasi perubahan-perubahan yang akan terjadi dimasa mendatang. Misal, penerapan teknik pembelajaran yang baru, dan sebagainya.

6. Kebutuhan Insidentil yang mendesak, yaitu faktor negatif yang muncul di luar dugaan yang sangat berpengaruh. Misal, bencana nuklir, kesalahan medis, bencana alam, dan sebagainya.

B. Melakukan Analisis Kebutuhan   

Ada empat tahap dalam melakukan analisa kebutuhan yakni perencanaan, pengumpulan data, analisa data dan menyiapkan laporan akhir.

Perencanaan : yang perlu dilakukan; membuat klasifikasi siswa, siapa yang akan terlibat dalam kegiatan dan cara pengumpulannya. (Morrison, 2001 : 32)

Pengumpulan data : perlu mempertimbangkan besar kecilnya sampel dalam penyebarannya (distribusi) (Morrison,2001 : 33).

Analisa data : setelah data terkumpul kemudian data dianalisis dengan pertimbangan : ekonomi, rangking, frequensi dan kebutuhan (ibid).

Membuat laporan akhir : dalam sebuah laporan analisa kebutuhan mencakup empat bagian; analisa tujuan, analisa proses, analisa hasil dengan table dan penjelasan singkat, rekomendasi yang terkait dengan data. (Morrison, 2001: 33-34).

Membicarakan tentang analisis tujuan tidak bisa dipisahkan dengan input yang terkait dengan masalah dan proses analisa kebutuhan.

C. Strategi Penilaian Kebutuhan.

Untuk memahami suatu kebutuhan termasuk masalah atau perlu penilaian terlebih dahulu terhadap kebutuhan yang teridentifikasi yang disebut need assessment.

Rasset menekankan pentingnya pengumpulan informasi tentang penilaian kebutuhan secara langsung dari siswa baik orang dewasa maupun siswa umum. la mengidentifikasi lima tipe pertanyaan yang berbeda-beda kelima pertanyaan tersebut:

1. Tipe pertanyaan untuk mengidentifikasi masalah siswa atau ‘leaner’ tentang seperti masalah yang sedang dihadapi.

2. Tipe  pertanyaan  yang  menanyakan  kepada  siswa  untuk mengungkapkan prioritas-prioritas diantara ketrampilan-ketrampilan yang mungkin dapat dimasukkan dalam pelajaran. Contoh : ketrampilan apa yang dibutuhkan ?

3. Tipe   pertanyaan   yang   meminta   kepada   siswa   untuk mendemonstrasikan ketrampilan tertentu. Contoh : tulislah pertanyaan dengan kalimat yang pendek

4. Tipe pertanyaan mencoba untuk mengungkapkan perasaan dan kesan siswa tentang suatu pelajaran tertentu. Contoh : apa yang menarik dari pelajaran tersebut ?

5. Tipe pertanyaan yang memberikan kepada siswa untuk menentukan pemecahan sendiri secara baik. Contoh : apa yang paling baik dilakukan untuk … ?

Harles (1975) menggambarkan partisipasi pihak-pihak yang mempunyai hubungan kerja sama untuk mengidentifikasikan kebutuhan pembelajaran yaitu siswa, pendidik, masyarakat dalam bentuk segitiga.

Atwi Suparman (2001 : 65-72) ada 8 langkah dalam mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran sebagai berikut:

Langkah 1.

Mengidentifikasi kesenjangan hasil prestasi saat ini dengan yang diidealkan. Untuk memperoleh data tersebut menggunakan cara ; membaca laporan tertulis observasi, wawancara, angket dan dokumen.

Langkah 2.

Sebelum mengambil tindakan pemecahan masalah, kesenjangan tersebut harus dinilai terlebih dahulu dari segi:

– Tingkat signifikasi pengaruhnya.

– Luas ruang lingkup.

– Pentingnya peranan kesenjangan terhadap masa depan lembaga atau program.

Langkah 3.

Yang dilakukan dalam langkah ini:

a.  Menganalisis kemungkinan penyebab kesenjangan melalui observasi,wawancara, analisa logis.

b. Memisahkan kemungkinan penyebab yang tidak berasal dari kekurangan pengetahuan, ketrampilan dan sikap untuk diserahkan penyelesaiannya kepada pihak lain.

c. Mengelompokkan kemungkinan penyebab yang berasal dari kekurangan pengetahuan ketrampilan dan sikap tertentu untuk diteruskan ke langkah 4.

Langkah 4.

Menginterview siswa untuk memisahkan antara yang sudah pernah dan yang belum memperoleh pendidikan, bagi yang sudah berpendidikan melanjutkan ke-langkah 5 dan bagi yang belum meneruskan ke-langkah 8.

Langkah 5

Bagi peserta yang sudah berpendidikan pada langkah ini dikelompokkan lagi mejadi peserta yang sering mengikuti pendidikan menuju ke-langkah 6 dan jarang mengikuti pendidikan melanjutkan ke-langkah 7.

Langkah 6.

Kelompok yang sudah sering mendapat pendidikan diberi umpan balik atas kekurangannya dan diminta untuk mempraktekkan kembali sampai dapat melakukan tugasnya seperti yang diinginkan.

Langkah 7.

Bagi kelompok yang masih jarang mengikuti pendidikan diberi kesempatan lebih banyak untuk berlatih kembali, ini perlu disupervisi dari dekat agar mencapai hasil yang diinginkan.

Langkah 8.

Untuk kelompok peserta yang belum pernah memperoleh pendidikan perlu dibuatkan intruksional yang mencakup pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan untuk diketahui peserta.

Setelah selesai pada tahapan ini dilanjutkan analisis pembelajaran, agar sistematis dan prosedural perlu diurutkan tujuan pembelajaran dari yang bersifat abstrak umum kepada tujuan yang kongkrit operasional. Langkah-langkah untuk melakukan pembelajaran ada 3 yaitu : Analisis pembelajaran, identifakasi perilaku dan karakteristik siswa.

Tulisan ini membahas:

1. Konsep dan prosedur penjabaran prilaku yang ada dalam TPU(Tujuan Pembelajaran Umum) menjadi subprilaku yang lebih kecil.

2. Mengidentifikasi hubungan antara subprilaku yang satu dengan yang lain.

Ketrampilan melakukan analisis pembelajaran penting bagi kegiatan pembelajaran, karena pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang harus diberikan lebih dulu dibanding yang lain, ini berarti pengajaran terhindar dari pemberian isi pelajaran yang tidak relevan dengan TPU (Tujuan Pembelajaran Umum)

 

D. Pengertian Analisis Pembelajaran

Analisis pembelajaran merupakan proses penjabaran prilaku umum menuju ke prilaku khusus yang tersusun secara logis dan sisitematis. Dengan tersusunnya gambaran prilaku khusus dari yang paling awal hingga akhir.

Menurut Dick and Carey analisis pembelajaran adalah seperangkat prosedur yang bisa diterapkan dalam suatu tujuan pembelajaran menghasilkan identifikasi   langkah-langkah yang relevan bagi penyelenggara suatu tujuan dan kemampuan-kemampuan subordinat yang dibutuhkan oleh mahasiswa untuk mencapai tujuan.

E. Macam Struktur Prilaku

Apabila prilaku umum dijabarkan menjadi prilaku khusus akan terdapat 4 macam susunan prilaku yaitu:

1. Struktur Hirarkikal

Yaitu kedudukan dua prilaku yang menunjukkan bahwa salah satu prilaku hanya dapat dilakukan bila telah dikuasai prilaku yang lain.

 

 

 

 

 

Contoh: Penguasaan komputer

 

Menerapkan komputer lanjut

 

 

 

 

Menerapkan komputer dasar

 

2. Struktur Prosedural

Yaitu kedudukan beberapa prilaku yang menunjukkan satu seri urutan prilaku tetapi tadak ada yang menjadi prilaku prasyarat untuk yang lain. walaupun kedua prilaku khusus itu harus dilakukan berurutan untuk dapat melakukan suatu prilaku umum, Setiap prilaku itu dapat dipelajari secara terpisah.

Contoh: Penggunaan OHP,

 

Menempatkan

transparan diatas OHP

Menyalakan OHP

Mengatur fokus

 

 

 

 

 

3. Struktur Pengelompokan

Yaitu prilaku khusus yang tidak mempunyai ketergantungan antara satu dengan yang lain, meski semuanya berhubungan.

Contoh: Permainan kerambol.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4. Struktur kombinasi.

Yaitu suatu prilaku umum bila diuraikan menjadi prilaku khusus sebagian besar a&ar terstruktur secara kombinasi antara struktur hirarki, prosedural dan pengelompokan. Contoh: mengoperasikan OHP.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

F. Langkah-langkah melakukan analisis pembelajaran.

1. Menuliskan prilaku umum yang ditulis dalam TPU untuk mata pelajaran yang sedang dikembangkan.

2. Menuliskan setiap prilaku khusus yang merupakan bagian dari prilaku umum. Jumlah prilaku khusus untuk setiap prilaku umum berkisar antara 5-10 buah, bila sangat dibutuhkan dapat ditambah.

3. Membuat prilaku khusus kedalam daftar urutan yang logis dari prilaku umum. Prilaku khusus yang terdekat hubungannya dengan prilaku umum diteruskan mundur sampai prilaku yang sangat jauh dari prilaku umum.

4. Menambahkan prilaku khusus atau kalau perlu dikurangi

5. Setiap prilaku khusus ditulis dalam lembar kartu/ kertas ukuran 3×5 cm.

6. Kemudian kartu disusun dengan menempatkannya dalam struktur hirarkhis prosedural, atau dikelompokkan menurut kedudukan masing-masing terhadap kartu lain.

7. Bila perlu ditambah dengan prilaku khusus lain atau dikurangi sesuai kedudukan masing-masing.

8. Letak prilaku digambarkan dalam bentuk kotak-kotak di atas kertas lebar sesuai dengan letak kartu yang telah disusun. Hubungkan kotak-kotak yang telah digambar dengan garis-garis vertikal dan horisontal untuk menyatakan hirarkhikal, prosedural dan pengelompokkan.

9. Meneliti kemungkinan hubungan prilaku umum yang satu dengan yang lain atau prilaku khusus yang berada di bawah prilaku umum yang berbeda.

10. Memberi nomer urut pada setiap prilaku khusus dimulai dari yang terjauh hingga yang terdekat dari prilaku umum.

Penomeran ini menunjukkan prilaku khusus yang terstruktur herarkhikal harus dilakukan dari bawah ke atas. Sedangkan pemberian nomer urut prilaku khusus yang terstruktur prosedural dapat berlainan dari urutannya dari yang lebih sederhana ke yang lebih kompleks.

Pemberian nomer urut prilaku-prilaku khusus yang terstruktur pengelompokan dilakukan dengan cara yang sama dengan struktur prosedural.

11. Mengkonsultasikan bagan yang telah dibuat dengan teman sejawat untuk mendapatkan masukan antara lain tentang:

a. Lengkap-tidaknya prilaku khusus sebagai penjabaran dari setiap prilaku umum.

b. Logis-tidaknya urutan prilaku-prilaku khusus menuju prilaku umum.

c. Struktur hubungan prilaku-prilaku khusus tersebut. (herarkhikal prosedural, pengelompokan atau kombinasi).

Contoh:

Type of learning : Attitude (Dick and Carey : Hal 40).

GOAL: Choose to maximize personal safety while staying in a hotel.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Goal analysis.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penutup

Dari bahasan di atas dapat dipahami bahwa seorang pendidika yang profesional sudah seharusnya paham akan tuntutan profesi baik secara administrasi, akademis, praktik, lebih penting lagi masalah bagaimana mendesain sebuah pembelajaran yang harmoni yaitu mendesain content atau materi pembelajaran yang aktual dan relevan dengan tuntutan atau kebutuhan life skill siswa dan sesuai zamanyya, mendesain learning objective sesuai dengan kebutuhan siswa dan tingkat kesulitannya, fururistik/kedepan tidak menjadikan siswa ketinggalan zaman dengan komunitasnya. Kesemuanya terencana berdasarkan apa yang mesti ada dan dihadirkan sesuai dengan kondisi siswa secara klasikal, regional ataupun nasional walaupun dengan ’setting’ local.

Hal itu dimungkinkan bila minimal sebagai pendidik paham betul akan siswa dan keinginan secara individual maupun klasikal di desain secara proporsional.

 

DAFTARPUSTAKA

Atwi Suparman, Desain Instructional, Proyek pengembangan Universitas Terbuka Ditjen Dikti Departemen Pendidikan Nasional, 2001.

Dick, Walter and Carey Lou, The Systematic Design of instruction 3rd Ed, Includes Bibliographical References, USA, Walter Dick and Lou Carey 1990.

Gary. R, Morrison, Steven M, Ross, Jerrold E Kemp : Designing Effective Instruction, Third Edition John Wiley and Sons, inc printed in the USA 2001.

Fleming, Malcoln L., Intructional Massage Design, Educational Technology Publications, Inc., Englewood Cliffs, New Jersey. 1981.

West, Charles K., James A. Farmer., Phillip M. Wolff, Intructional design Allyn And Bacon, University of Illinois at Urbana-Champaign Boston, a991.

 

Merancang dan Melakukan Penilaian Sumatif

 

 

Untuk mengetahui berhasil atau tidaknya proses pembelajaran perlu diadakan evaluasi. Di antara evaluasi itu adalah penilaian sumatif. Penilaian dilakukan dengan tujuan untuk menilai proses dan hasil belajar siswa di sekolah, mendiagnosis kesulitan belajar siswa dan menentukan kenaikan kelas atau kelulusan. Fungsi penilaian adalah untuk memberikan umpan balik proses belajar mengajar, meningkatkan motivasi belajar siswa, dan memberikan laporan kemajuan belajar siswa kepada pihak yang memerlukannya.

 

Dalam melakukan penilaian (assesment), terdapat dua istilah yang saling berhubungan yakni evaluasi dan pengukuran. Dua istilah ini identik, kadang perbedannnya samar. Sebenarnya penilaian adalah bagian dari evaluasi, karena  evaluasi lebih luas dari sekedar pengukuran. Assessment is broader in scope than measurement in that it involves the interpretation and representation of measurement data.

 

Penilaian atas hasil pembelajaran memberikan deskripsi tentang tiga hal. Pertama menggambarkan seberapa efektifnya metode pengajaran yang diterapkan. Yang ke dua seberapa efisien kegiatan pembelajaran, dan ke tiga seberapa menariknya pembelajaran bagi siswa.

Keefektifan pembelajaran dapat diukur dengan tingkat penguasaan siswa pada tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Keefektifan tersebut dapat dilihat dari beberapa indikator sebagai berikut :

1.    Kecermatan penguasaan perilaku

2.    Kecepatan unjuk kerja

3.    Kesesuaian dengan dengan prosedur

4.    Kualitas hasil akhir

5.    Tingkat alih belajar

6.    Tingkat retensi

 

Tingkat daya tarik pembelajaran dapat diamati dengan melihat kecenderungan siswa untuk tetap belajar. Indikator bahwa bidang studi memiliki daya tarik adalah siswa memberikan apresiasi dan keinginan lebih atas bidang studi yang diajarkan.

Efisiensi pembelajaran diukur dengan rasio antara keefektifan dan jumlah waktu yang digunakan dalam proses pembelajaran dan atau jumlah biaya yang dikeluarkan untuk proses dimaksud.

Penilaian sumatif dikaitkan dengan penilaian pada akhir semester atau tahun. Penilaian ini memberikan nilai yang membedakan pencapaian seorang dengan lain dan seringkali digunakan untuk membuat pemilihan/penyeleksian.

Penilaian sumatif ialah penilaian yang dibuat pada akhir pengajaran (akhir semester/akhir tahun), yang bertujuan untuk menilai pencapaian akhir pembelajaran. Berbeda dengan penilaian formatif, yang lebih menekankan kepada penilaian penguasaan pelajar dalam suatu materi, penilaian sumatif bertujuan untuk menentukan pencapaian pelajar pada akhir semester/akhir tahun ajaran, yang juga dapat menentukan keberhasilan sesuatu kurikulum. Contoh penilaian sumatif ialah penilaian pada akhir tahun ajaran dalam bentuk Ujian Kenaikan Tingkat/ Ujian Akhir Madrasah.

Sehubungan dengan defenisi di atas, penilaian sumatif lebih menekankan pada hasil dan dilaksanakan satu kali untuk satu semester atau setiap akhir dari suatu program pembelajaran. Hasil penilaian sumatif ini berfungsi untuk grading clacement, promotion, dan accountability. Penilaian jenis ini memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan. Dalam hal motivasi, penilaian jenis ini sangat menguntungkan bagi siswa yang memperoleh prestasi yang tinggi. Sebaliknya, bagi siswa yang memperoleh prestasi yang rendah akan memiliki motivasi yang rendah yaitu rasa pesimis. Secara umum, tujuan penilaian sumatif bukanlah untuk membantu pelajar meningkatkan pencapaian, tetapi untuk memberikan rangking kepada mereka. Rangking yang diperoleh pelajar dapat digunakan untuk membuat perbandingan pencapaian antar pelajar. Penilaian sumatif juga dapat dijadikan petunjuk, apakah siswa dapat menguasai suatu mata pelajaran atau tidak. Jika mereka sudah mencapai peringkat tertentu, barulah mereka dibolehkan untuk mengambil mata pelajaran baru.

Menurut Yatim Riyanto (2009:142) Tahap kegiatan ini dimaksudkan untuk memperoleh balikan tentang hal-hal berikut ini:

1.   Taraf pencapaian tujuan pembelajaran, keseksamaan perumusan tujuan.

2. Kesesuaian antara metode dan teknik peogajaran, dengan sifat bahan pelajaran, tujuan yang ingin dicapai, karakteristik siswa, kemampuan dasar siswa.

3.   Keberhasilan program dalam mencapai tujuan program.

4. Keseksamaan alat evaluasi yang digunakan demgan tujuan pengajaran/tujuan program yang ingin dinilai keberhasilannya.

 

Sudjana (1995) mengutarakan tujuan penilaian hasil belajar sebagai berikut:

1. Mendeskripsikan kecakapan belajar siswa sehingga dapat diketahui kelebihan dan kekurangannya dalam berbagai bidang studi atau mata pelajaran yang ditempuhnya. Dengan pendeskripsian kecakapan tersebut dapat diketahui pula posisi kemampuan siswa dibandingkan dengan siswa lainnya.

2.   Mengetahui keberhasilan proses pendidikan dan pengajaran di sekolah, yakni seberapa jauh keefektifannya dalam mengubah tingkah laku siswa ke arah tujuan pendidikan yang diharapkan.

3.  Menentukan tindak lanjut hasil penilaian, yakni melakukan perbaikan dan penyempurnaan dalam hal program pendidikan dan pengajaran serta sistem pelaksanaannya.

4. Memberikan pertanggungjawaban (accountability) dari pihak sekolah kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

 

Karakteristik Penilaian Sumatif

Beberpa ciri khusus terkait dengan penilaian sumatif antara lain sebagi berikut :

1.    Penilaian bersifat terminal/final.

2.    Biasanya berada di penghujung/akhir sebuah program pembelajaran.

3.    Menilai prestasi dalam programnya.

4.    Memberikan keterangan atas sejauh mana capaian seorang siswa dalam kurun waktu tertentu.

5.    Pandangan berlaku surut atas pelajaran apa saja yang telah dicapai selama masa belajar .

6.    Terkadang terkait dengan pemberian sertifikasi, pemberian nilai dan pengakuan publik.

7.    Biasanya merupakan penilaian tipe formal misalnya untuk mengakhiri sebuah tahapan ujian.

 

 

 

REFERENSI

 

Degeng, I. Nyoman Sudana, Ilmu Pengajaran Taksonomi Variable, Dirjen Pendidikan Tinggi, Jakarta: 1989

Riyanto, Yatim, Paradigma Baru Pembelajaran, Prenada Media Group, Jakarta: 2009

Sanjaya, Wina, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran, Kencana Prenada Media Group, Jakarta: 2008.

Sudjana, Nana. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, Bandung, Remaja Rosda Karya : 1995.

DAFTAR PUSTAKA

Peraturan Pemerintah Nomor 19, tahun 2005, tentang Standar Nasional Pendidikan.

 

Salim Bhreisy; Riyadus Sholihin, Penerbit PT. Al Ma’arif, Bandung, 1978

 

Peraturan pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan

 

Undang-undang R.I Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasdional

 

William Gardnerd; Multiple Intelligence

 

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR

A.    PENDAHULUAN
Pada era globalisasi saat ini terjadi perubahan paradigma dalam dunia pendidikan. Pendidikan yang berlangsung sekarang setidaknya menghadapi dua tantangan. Tantangan yang pertama berasal dari adanya perubahan pandangan terhadap belajar itu sendiri.  Pandangan behaviuorisme yang mengutamakan stimulus dan respon tidak cukup untuk dapat memberikan hasil optimal. Selain itu orang-orang yang terlibat dalam dunia pendidikan lebih tertarik pada aspek kognitif dan afektif siswa, atau lebih tepatnya bagaimana dan apa yang terjadi apabila siswa belajar secara dinamis, termasuk faktor internal dan eksternal apa yang mempengaruhi cara berpikir atau belajar mereka. Untuk saat ini pembelajaran di kelas sudah mengarah pada pandangan konstruktivist yang harus melibatkan aktivitas yang mendukung semua siswa untuk meningkatkan dan mengembangkan keterampilan penalaran analitis dan kritis, pemecahan masalah, dan komunikasi, dan mencapai kebiasaan (habit) berpikir. Pembelajaran di kelas juga harus mempresentasikan ide-ide kunci dan konsep dari berbagai perspektif, seperti menyajikan berbagai range dari contoh dan aplikasi untuk memotivasi dan mengilustrasi materi, mempromosikan koneksi suatu bidang ilmu ke disiplin ilmu lain, mengembangkan kemampuan setiap siswa untuk menerapkan materi yang diajarkan ke disiplin ilmu lain tersebut, memperkenalkan topik yang terkini dari suatu bidang ilmu dan aplikasinya, dan meningkatkan persepsi siswa tentang peran vital dan pentingnya ilmu pengetahuan dalam perkembangan dunia dewasa ini.

Tuntutan berpikir atau belajar yang dinamis, seperti penalaran, komunikasi, koneksi, dan pemecahan masalah membutuhkan suatu wahana komunikasi (baik verbal maupun tulisan), dinyatakan dalam suatu bentuk representasi atau representasi multipel, yang merupakan bahasa yang dapat digunakan untuk mengungkapkan ide-ide atau pikiran seseorang, dan mengkomunikasikannya kepada orang lain atau diri sendiri, baik secara verbal maupun tulisan, melalui grafik, tabel, gambar, persamaan, atau yang lainnya.

Akan tetapi, dalam implementasi proses pembelajarannya banyak terjadi kendala, misalnya kesukaran siswa dalam menjembatani representasi-representasi dan secara fleksibel berpindah dari satu representasi ke representasi lainnya (Yerushalmy, 1997). Menurut Sfard (1992), Greer dan Harel (1998), Hong, Thomas, dan Kwon (2000), Greeno dan Hall (dalam Zachariades, Christou, dan Papageorgiou, 2002) siswa mempunyai kemampuan minimal dalam menjembatani representasi-representasi tanpa memahami benang merah antar ide konsep materi-materi yang direpresentasikan.

Oleh karena itu dibutuhkan suatu sarana dari guru untuk menjembatani hal tersebut melalui bahn ajar yang akan disajikan baik itu berupa modul, hand out ataupun lembar kerja siswa.

Tantangan kedua yang dihadapi oleh dunia pendidikan saat ini adalah kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu pesat, yang menawarkan berbagai kemudahan dalam pembelajaran. Kemajuan teknologi ini memungkinkan terjadinya pergeseran orientasi belajar dari outside-guided menjadi self-guided. Selain itu teknologi juga memainkan peranan penting dalam memperbaharui konsepsi pembelajaran yang semula semata-mata fokus pada pembelajaran sebagai suatu penyajian berbagai pengetahuan menjadi pembelajaran sebagai suatu bimbingan agar mampu melakukan eksplorasi sosial budaya yang kaya akan pengetahuan.

Pembaharuan paradigma belajar melalui pandangan konstruktivisme dan pergeseran-pergeseran yang terjadi karena adanya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi merupakan dua hal yang sangat sejalan dan saling memperkuat. Konstruktivisme dan teknologi, secara terpisah maupun bersama-sama telah menawarkan peluang-peluang baru dalam proses pembelajaran, baik di ruang kelas, belajar jarak jauh maupun belajar mandiri. Salah satu tulisan (Tam. M, 2000) melaporkan bahwa komputer dapat secara efektif digunakan untuk mengembangkan higher-order thinking skills yang terdiri dari kemampuan mendefinisikan masalah, menilai (judging) suatu informasi, memecahkan masalah dan menarik kesimpulan yang relevan.

Perangkat berbasis teknologi lainnya yang diharapkan dapat digunakan dalam upaya mengembangkan lingkungan belajar yang lebih produktif adalah video discs, multimedia/hypermedia, e-mail dan internet, disamping piranti lunak Computer Assisted Instruction/Intelligent Computer Assisted Instruction (CAI/ICAI).

Oleh karena itu kebutuhan akan multimedia interaktif semakin dirasakan, mengingat kondisi perkembangan Teknologi Informasi (IT) semakin berkembang pesat. Dalam dunia pendidikan misalnya siswa mulai dari pra-sekolah, SD, SMP dan SMU/SMK dituntut untuk mengenal TI sejak dini. Kebutuhan ini tidak hanya sebagai wacana tetapi dilegalisasi melalui terbitnya Kurikulum yang memasukan mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di sekolah, lebih khusus lagi SMK TI secara spesifik mempelajari TI sebagai suatu keahlian produktif. Untuk menunjang masuknya TI di sekolah, pemerintah secara bertahap membantu sekolah-sekolah dengan memberikan perangkat hardawre komputer sebagai alat peraktek dan ditunjang dengan diberikannya BOM (bantuan perasional Manajemen) yang salah satunya harus dibelanjakan untuk membeli software komputer untuk menunjang pembelajaran TI dan penguasaan materi pelajaran umum dengan bantuan TI. Dengan demikian jelas bahwa kebutuhan bahan pembelajaran berbasis ICT sebagai alat untuk membantu siswa menguasai TI dan materi pelajaran umum lainnya dengan lebih cepat, menyenangkan dan meningkatkan hasil belajar, menjadi kebutuhan yang mendesak untuk tercapainya kualitas pembelajaran yang diharapkan.

Atas dasar pentingnya bahan pembelajaran berbasis ICT yang dirancang oleh guru bagi peningkatan kualitas pembelajaran yang berbasis teknologi informasi dan komunikasi dan untuk kepentingan publikasi komunikasidan informasi lembaga, maka sudah menjadi kebutuhan yang mendesak untuk adanya peningkatan kemampuan para pelaku pendidikan/ pelatihan terutama guru untuk memiliki kemampuan dalam merancang multimedia interaktif untuk mengemas berbagai materi-materi pelajaran.

 

B. Teknologi Informasi dan Komunikasi

Saat ini komputer bukan lagi merupakan barang mewah, alat ini sudah digunakan di berbagai bidang pekerjaan seperti halnya pada bidang pendidikan. Pada awalnya komputer dimanfaatkan di sekolah sebagai penunjang kelancaran pekerjaan bidang
administrasi dengan memanfaatkan software Microsoft word, excel dan access.
Dengan masuknya materi Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam kurikulum baru, maka peranan komputer sebagai salah satu komponen utama dalam TIK mempunyai posisi yang sangat penting sebagai salah satu media pembelajaran. Visi mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam kurikulum adalah

  • Agar siswa dapat dan terbiasa menggunakan perangkat Teknologi Informasi dan Komunikasi secara tepat dan optimal untuk mendapatkan dan memproses informasi dalam kegiatan belajar, bekerja, dan aktifitas lainnya sehingga siswa mampu berkreasi, mengembangkan sikap imaginatif, mengembangkan kemampuan eksplorasi mandiri, dan mudah beradaptasi dengan perkembangan baru di lingkungannya.
  • Melalui mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi diharapkan siswa dapat terlibat pada perubahan pesat dalam kehidupan yang mengalami penambahan dan perubahan dalam penggunaan beragam produk teknologi informasi dan komunikasi.
  • Siswa menggunakan perangkat Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk mencari, mengeksplorasi, menganalisis, dan saling tukar informasi secara efisien dan efektif.
  • Dengan menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi, siswa akan dengancepat mendapatkan ide dan pengalaman dari berbagai kalangan. Penambahan kemampuan siswa karena penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi akan mengembangkan sikap inisiatif dan kemampuan belajar mandiri, sehingga siswa dapat memutuskan dan mempertimbangkan sendiri kapan dan dimana penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi secara tepat dan optimal, termasuk apa implikasinya saat ini dan dimasa yang akan datang.

Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) mencakup dua aspek, yaitu Teknologi Informasi dan Teknologi Komunikasi. Teknologi Informasi, meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi. Teknologi Komunikasi merupakan segala hal yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke lainnya. Karena itu, Teknologi Informasi dan Teknologi Komunikasi adalah suatu padanan yang tidak terpisahkan yang mengandung pengertian luas tentang segala kegiatan yang terkait dengan pemrosesan, manipulasi, pengelolaan, dan transfer/pemindahan informasi antar media.

Dengan melihat isi dari kurikulum tersebut, kita harus mengintegrasikan TIK dalam proses belajar mengajar di sekolah bukan hanya untuk mata pelajaran teknologi dan informasi saja tetapi juga untuk semua mata pelajaran. Melihat kondisi TIK pada saat ini dan perkembangannya di masa datang, kita harus mempersiapkan diri dan melakukan perencanaan yang matang dalam mengimplementasikan TIK di sekolah. Mengamati Program Pengembagan TIK yang dilakukan Depdiknas Untuk mengejar ketertinggalan pemanfaatan TIK di sekolah dari negara lain.
Ada tiga posisi penting di Depdiknas dalam program pengembangan TIK, yaitu:

  1. Bidang kejuruan, TIK menjadi salah satu jurusan di SMK. Pengembangan TIK secara teknis baik hardware dan software masuk dalam kurikum pendidikan. Dibentuknya ICT center di seluruh Indonesia. Untuk menghubungkan sekolahsekolah di sekitar ICT center dibangun WAN (Wireless Area Network) Kota.
  2. Pustekkom, sebagai salah satu ujung tombak dalam pengembangan TV pendidikan interaktif, Elearning dan ESMA. Program ini bertujuan untuk mempersempit jurang perbedaan kualitas pendidikan antara kota besar dengan daerah.
  3. Jardiknas (Jejaring Pendidikan Nasional), bertujuan untuk mengintegrasikan kedua program di atas agar terbentuk sebuah jaringan yang menghubungkan semua sekolah di Indonesia. Sehingga diperkirakan di masa depan semua sekolah di Indonesia akan terkoneksi dengan internet. Melihat program yang diadakan oleh Depdiknas kita bisa memanfaatkan fasilitas tersebut karena bersifat terbuka.

 

B. BELAJAR MANDIRI

Belajar mandiri tidak berarti belajar sendiri. Hal yang terpenting dalam proses belajar mandiri ialah peningkatan kemauan dan keterampilan siswa/peserta didik dalam proses belajar tanpa bantuan orang lain, sehingga pada akhirnya siswa/peserta didik tidak tergantung pada guru/instruktur, pembimbing, teman, atau orang lain dalam belajar. Dalam belajar mandiri siswa/peserta didik akan berusaha sendiri dahulu untuk memahami isi pelajaran yang dibaca atau dilihatnya melalui media audio visual. Kalau mendapat kesulitan barulah bertanya atau mendiskusikannya dengan teman, guru/instruktur atau orang lain. Siswa/peserta didik yang mandiri akan mampu mencari sumber belajar yang dibutuhkannya.

Proses belajar mandiri memberi kesempatan peserta didik untuk mencerna materi ajar dengan sedikit bantuan guru. Mereka mengikuti kegiatan belajar dengan materi ajar yang sudah dirancang khusus sehingga masalah atau kesulitan belajar sudah diantisipasi sebelumnya. Model belajar mandiri ini sangat bermanfaat, karena dianggap luwes, tidak mengikat serta melatih kemandirian siswa agar tidak bergantung atas kehadiran atau uraian materi ajar dari guru. Berdasarkan gagasan keluwesan dan kemandirian inilah belajar mandiri telah ber’metamorfosis’ sedemikian rupa, diantaranya menjadi sistem belajar terbuka dan belajar jarak jauh. Perubahan tersebut juga dipengaruhi oleh ilmu-ilmu lain dan kenyataan di lapangan.

Proses belajar mandiri mengubah peran guru atau instruktur, menjadi fasilitator atau perancang proses belajar. Sebagai fasilitator, seorang guru atau instruktur membantu peserta didik mengatasi kesulitan belajar, atau ia dapat menjadi mitra belajar untuk materi tertentu pada program tutorial. Tugas perancang proses belajar mengharuskan guru untuk mengolah materi ke dalam format sesuai dengan pola belajar mandiri.

Sistem belajar mandiri menuntut adanya materi ajar yang dirancang khusus untuk itu. Menurut Prawiradilaga (2004 : 194) Beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh materi ajar ini adalah:

Kejelasan rumusan tujuan belajar (umum dan khusus).

  • Materi ajar dikembangkan setahap demi setahap, dikemas mengikuti alur desain pesan, seperti keseimbangan pesan verbal dan visual.
  • Materi ajar merupakan sistem pembelajaran lengkap, yaitu ada rumusan tujuan belajar, materi ajar, contoh/bukan contoh, evaluasi penguasaan materi, petunjuk belajar dan rujukan bacaan.
  • Materi ajar dapat disampaikan kepada siswa melalui media cetak, atau komputerisasi seperti CBT, CD-ROM, atau program audio/video.
  • Materi ajar itu dikirim dengan jasa pos, atau menggunakan teknologi canggih dengan internet (situs tertentu) dan e-mail; atau dengan cara lain yang dianggap mudah dan terjangkau oleh peserta didik.
  • Penyampaian materi ajar dapat pula disertai program tutorial, yang diselenggarakan berdasarkan jadwal dan lokasi tertentu atau sesuai dengan kesepakatan bersama.

C. APA ITU E-LEARNING?

E-learning merupakan suatu teknologi informasi yang realtif baru di Indonesia. E-learning terdiri dari dua bagian, yaitu ‘e’ yang merupakan singkatan dari ‘elektronic’ dan ‘learning’ yang berarti ‘pembelajaran’. Jadi e-learning berarti pembelajaran dengan menggunakan jasa bantuan perangkat elektronika, khususnya perangkat komputer. Karena itu, maka e-learning sering disebut pula dengan ‘online course’. Dalam berbagai literatur, e-learning didefinisikan sebagai berikut :

E-learning is a generic term for all technologically supported learning using an array of teaching and learning tools as phone bridging, audio and videotapes, teleconferencing, satellite transmissions, and the more recognized web-based training or computer aided instruction also commonly referred to as (Soekartawi, 2003)

Dengan demikian maka e-learning atau pembelajaran melalui online adalah pembelajaran yang pelaksaanya didukung oleh jasa teknologi seperti telepon, audio, videotape, transmisi satelit atau komputer.

Dalam perkembanganya, komputer dipakai sebagai alat bantu pembelajaran, karena itu dikenal dengan istilah (CBL) atau computer assisted learning (CAL). Saat pertama kali komputer mulai diperkenalkan khususnya untuk pembelajaran, maka komputer menjadi popular dikalangan anak didik. Hal ini dapat dimengerti karena berbagai variasi teknik mengajar bisa dibuat dengan bantuan kompter tersebut. Maka setelah itu teknologi pembelajaran terus berkembang dan dikelompokan menjadi dua yaitu :

  • Technology-based learning
  • Technology-based Web-learning
  • Technology based-learning ini pada prinsipnya terdiri dari dua, yaitu audio (audio tape, radio, voice mail, telepone ) an video information technologies (video tape, nideo text, video messaging). Sedangkan technology based web-learning pada dasarnya adalah data information tecbnologies (bulletin board, internet, email, tele-collaboration).

Dalam pelaksanaan pembelajaran sehari-hari, yang sering dijumpai adalah kombinasi dari teknologi yang dituliskan di atas (audio/data, video/data, audio/video). Teknologi ini juga sering dipakai pada pendidikan jarak jauh, dimaksudkan agar komunikasi antara murid dan guru bisa terjadi dengan keunggulan teknologi e-learning ini. Sedangkan interaksi antara guru dan murid bisa dilaksanakan melalui cara langsung (synchronous) atau tidak langsung, misalnya pesan direkam dahulu sebelum digunakan. Cara ini dikenal dengan nama e-synchronous.

D. KARAKTERISTIK E-LEARNING
Karakteristik e-learning antara lain adalah:

Memanfaatkan jasa teknologi elektronik; dimana guru dan siswa, siswa dan sesama siswa atau guru dan sesama guru dapat berkomunikasi dengan relatif mudah dengan tanpa dibatasi oleh hal-hal yang protokelor;

Menggunakan bahan ajar bersifat mandiri (self learning materials) disimpan di komputer sehinga dapat diakses oleh guru dan siswa kapan saja dan dimana saja dan yang bersangkutan memerlukanya; dan

Memanfaatkan jadwal pembelajaran, kurikulum, hasil kemajuan belajar dan hal-hal yang berkaitan dengan administrasi pendidikan dapat dilihat setiap saat di komputer.

Menurut Miarso (2004), Pemanfaatan E-learning tidak terlepas dari jasa internet. Karena teknik pembelajaran yang tersedia di internet begitu lengkap, maka hal ini akan mempengaruhi terhadap tugas guru dalam proses pembelajaran. Dahulu, proses belajar-mengajar didominasi oleh peranan guru, karena itu disebut the era of theacher. Kini, proses belajar-mengajar, banyak didominasi oleh peran guru dan buku (the era of teacher and book) dan pada masa mendatang proses belajar mengajar akan didominasi oleh guru, buku, dan teknologi (the era of teacher, book, and technology)


E. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN E-LEARNING

Menyadari bahwa melalui internet dapat ditemukan berbagai informasi yang dapat diakses secara mudah, kapan saja dan dimana saja, maka pemanfaatan internet menjadi suatu kebutuhan. Bukan itu saja, pengguna internet bisa berkomunikasi dengan pihak lain dengan cara yang sangat mudah melalui teknik e-moderating yang tersedia diinternet.
Dari berbagai pengalaman dan juga dari berbagai informasi yang tersedia di literatur, memberikan petunjuk tentang manfaat penggunaan internet, khususnya da-lam pendidikan terbuka dan jarak jauh, antara lain dapat disebutkan sebagai berikut.

  • Tersedianya fasilitas e-moderating dimana guru dan murid dapat berkomunikasi dengan mudah melalui fasilitas internet secara regular atau kapan saja kegiatan berkomunikasi itu dilakukan dengan tanpa dibatasi oleh jarak, tempat, dan waktu.
  • Guru dan siswa dapat mengguakan bahan ajar atau petunjuk belajar yang tersruktur dan terjadwal melalui internet, sehingga keduanya bisa saling menilai sampai berapa jauh bahan ajar dipelajari.
  • Siswa dapat belajar atau me-review bahan ajar setiap saat dan dimana saja kalau diperlukan mengingat bahan ajar tersimpan dikomputer.
  • Bila siswa memerlukan tambahan informasi yang berkaitan dengan bahan yang dipelajarinya, ia dapat melakukan akses di internet.
  • Baik guru maupun siswa dapat melaksanakan diskusi melalui internet yang dapat diikuti dengan jumlah peserta yang banyak, sehingga menambah ilmu pengetahuan dan wawasan yang lebih luas.
  • Berubahnya peran siswa dari yang biasanya pasif menjadi aktif .
  • Relatif lebih efisien. Misalnya bagi yang mereka tinggal jauh dari perguruan tinggi atau sekolah konvensional, bagi mereka yang sibuk bekerja , bagi mereka yang bertugas di kapal,di luar negeri, dan sebagainya.

Walaupun demikian pemanfaatan internet untuk pembelajaran atau e-learning juga tidak terlepas dari berbagai kekurangan. Berbagai kritik antara lain dapat disebutkan sebagai berikut :

  1. Kurangnya interaksi antara guru dan siswa bahkan antar-siswa itu sendiri. Kurangnya interaksi ini bisa memperlambat terbentuknya values dalam proses belajar-mengajar.
  2. Kecenderungan mengabaikan aspek akademik atau aspek sosial dan sebaliknya mendorong tumbuhnya aspek bisnis.
  3. Proses belajar dan mengajarnya cenderung kearah pelatihan daripada pendidikan.
  4. Berubahnya peran guru dan yang semula menguasai teknik pembelajaran konvensional, kini juga dituntut mengetahui teknik pembelajaran yang menggunakan ICT;
  5. Siswa yang tidak mempunyai motivasi belajar yang tinggi cenderung gagal
  6. Tidak semua tempat tersedia fasilitas internet (mungkin hal ini berkaitan dengan masalah tersedianya listrik, telepon, ataupun komputer).
  7. Kurangnya penguasaan komputer.

 

F. FAKTOR YANG DIPERTIMBANGKAN DALAM MEMANFAATKAN E – LEARNING UNTUK PEMBELAJARAN

Ahli-ahli pendidikan dan internet menyarankan beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum seseorang memilih internet untuk kegiatan pembelajaran (Hartanto dan Purbo, 2002; serta Soekawati, 1999;) antara lain:

· Analisis Kebutuhan (Need Analysis)

Dalam tahapan awal, satu hal yang perlu dipertimbangkan adakah apakah memang memerlukan e-learning. Untuk menjawab pertanyaan ini tidak dapat dijawab dengan perkiraan atau dijawab berdasarkan atas sasaran orang lain. Sebab setiap lembaga menentukan teknologi pembelajaran sendiri yang berbeda satu sama lain. Untuk itu perlu diadakan analisis kebutuhan. Kalau analisis ini dilaksanakan dan jawabanya adalah membutuhkan e-learning maka tahap berikutnya adalah membuat studi kelayakan, yang komponen penilaianya adalah:

  1. Apakah secara teknis dapat dilaksanakan misalnya apakah jaringan internet bisa dipasang, apakah infrasruktur pendukungnya, seperti telepon, listrik, komputer tersedia, apakah ada tenaga teknis yang bisa mengoperasikanya tersedia.
  2. Apakah secara ekonomis menguntungkan, misalnya apakah dengan e-learning kegiatan yang dilakukan menguntungkan atau apakah return on investment nya lebih besar dari satu.
  3. Apakah secara sosial penggunaan e-kearning tersebut diterima oleh masyarakat

 

· Rancangan Instruksional

Dalam menentukan rancangan instruksional ini perlu dipertimbangkan aspek-aspek (Soekartawi, 1999) :

  1. Course content and learning unit analysis, seperti isi pelajaran, cakupan, topik yang relevan dan satuan kredit semester.
  2. Learner analysis, seperti latar belakang pendidikan siswa, usia, seks, status pekerjaan, dan sebagainya.
  3. Learning context analysis, seperti kompetisi pembelajaran apa yang diinginkan hendaknya dibahas secara mendalam di bagian ini.
  4. Instructional analysis, seperti bahan ajar apa yang dikelompokan menurut kepentingannya, menyusun tugas-tugas dari yang mudah hingga yang sulit, dan seterusnya.
  5. State instructional objectives, Tujuan instuksional ini dapat disusun berdasarkan hasil dari analisis instruksional.
  6. Construct criterion test items, penyusunan tes ini dapat didasarkan dari tujuan instruksional yang telah ditetapkan.
  7. Select instructional strategy, strategi instruksional dapat ditetapan berdasarkan fasilitas yang ada.

 

· Tahap Pengembangan
Berbagai upaya dalam pengembangan e-learning bisa dilakukan mengikuti perkembangan fasilitas ICT yang tersedia hal ini kadang-kadang fasilitas ICT tidak dilengkapi dalam waktu yang bersamaan. Begitu pula halnya dengan prototype bahan ajar dan rancangan intruksional yang akan dipergunakan terus dipertimbangkan dan dievaluasi secara kontinu.

 

· Pelaksanaan
Prototype yang lengkap bisa dipindahkan ke komputer (LAN) dengan menggunakan format misalnya format HTML. Uji terhadap prototype hendaknya terus menerus dilakukan. Dalam tahapan ini sering kali ditemukan berbagai hambatan, misalnya bagaimana menggunakan management course tool secara baik, apakah bahan ajarnya benar-benar memenuhi standar bahan ajar mandiri.

 

· Evaluasi
Sebelum program dimulai, ada baiknya dicobakan dengan mengambil beberapa sampel orang yang dimintai tolong untuk ikut mengevaluasi. Proses dari kelima tahapan diatas diperlukan waktu yang relatif lama, karena prototype perlu dievaluasi secara terus menerus. Masukan dari orang lain atau dari siswa perlu diperhatikan secara serius. Proses dari tahapan satu sampai lima dapat dilakukan berulang kali, karena prosesnya terjadi terus-menerus.

Akhirnya harus pula diperhatikan masalah-masalah yang sering dihadapi sebagai berikut:

  1. Masalah akses untuk bisa melaksanakan e-learning seperti ketersediaan jaringan internet, listrik, telepon, dan infrastruktur yang lain.
  2. Masalah ketersediaan software (peranti lunak). Bagaimana mengusahakan peranti lunak yang tidak mahal.
  3. Masalah dampaknya terhadap krikulum yang ada.
  4. Masalah skill dan knowledge.
  5. Attitude terhadap ICT.

 

SIMPULAN
E-learning merupakan aplikasi internet yang dapat menghubungkan antara pendidik dan peserta didik dalam sebuah ruang belajar online. E-learning tercipta untuk mengatasi keterbatasan antara pendidik dan peserta didik, terutama dalam hal waktu dan ruang. Dengan e-learning maka pendidik dan peserta didik tidak harus berada dalam satu dimensi ruang dan waktu. Proses pendidikan dapat berjalan kapan saja dengan mengabaikan kedua hal tersebut.

E-learning akan dimanfaatka atau tidak sangat tergantung bagaimana pengguna memandang atau menilai e-learning tersebut. Namun umumnya digunakannya teknologi tersebut tergatung dari:

  1. Apakah teknologi itu memang sudah merupakan kebutuhan;
  2. Apakah fasilitas pendukungnya sudah memadai;
  3. Apakah didukung oleh dana yang memadai; dan
  4. Apakah ada dukungan dari pembuat kebijakan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Hartanto, A.A dan Ono W. Purbo. 2002. Teknologi E-learning Berbasis PHP dan MySQL. Elex Media Komputindo: Jakarta.

Miarso, Yusuf Hadi. 2004. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Kencana: Jakarta.

Prakoso, Kukuh Setyo. 2005. Membangun E-learning dengan Moodle. Penerbit Andi: Yogyakarta.

Prawiradilaga, Dewi S dan Eveline Siregar. 2004. Mozaik Teknologi Pendidikan. Prenata Media: Jakarta..

Soekartawi. 1999. Rancangan Instructional. Rajawali Press: Jakarta.

Soekartawi. 2003. E-learning di Indonesia dan Prospeknya di Masa Mendatang. Makalah disampaikan pada seminar nasional di Universitas Petra, Surabaya, 3 Februari 2003.

 

Untuk mengetahui berhasil atau tidaknya proses pembelajaran perlu diadakan evaluasi. Di antara evaluasi itu adalah penilaian sumatif. Penilaian dilakukan dengan tujuan untuk menilai proses dan hasil belajar siswa di sekolah, mendiagnosis kesulitan belajar siswa dan menentukan kenaikan kelas atau kelulusan. Fungsi penilaian adalah untuk memberikan umpan balik proses belajar mengajar, meningkatkan motivasi belajar siswa, dan memberikan laporan kemajuan belajar siswa kepada pihak yang memerlukannya.

Dalam melakukan penilaian (assesment), terdapat dua istilah yang saling berhubungan yakni evaluasi dan pengukuran. Dua istilah ini identik, kadang perbedannnya samar. Sebenarnya penilaian adalah bagian dari evaluasi, karena  evaluasi lebih luas dari sekedar pengukuran. Assessment is broader in scope than measurement in that it involves the interpretation and representation of measurement data.

Penilaian atas hasil pembelajaran memberikan deskripsi tentang tiga hal. Pertama menggambarkan seberapa efektifnya metode pengajaran yang diterapkan. Yang ke dua seberapa efisien kegiatan pembelajaran, dan ke tiga seberapa menariknya pembelajaran bagi siswa.

Keefektifan pembelajaran dapat diukur dengan tingkat penguasaan siswa pada tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Keefektifan tersebut dapat dilihat dari beberapa indikator sebagai berikut :

1.    Kecermatan penguasaan perilaku

2.    Kecepatan unjuk kerja

3.    Kesesuaian dengan dengan prosedur

4.    Kualitas hasil akhir

5.    Tingkat alih belajar

6.    Tingkat retensi

Tingkat daya tarik pembelajaran dapat diamati dengan melihat kecenderungan siswa untuk tetap belajar. Indikator bahwa bidang studi memiliki daya tarik adalah siswa memberikan apresiasi dan keinginan lebih atas bidang studi yang diajarkan.

Efisiensi pembelajaran diukur dengan rasio antara keefektifan dan jumlah waktu yang digunakan dalam proses pembelajaran dan atau jumlah biaya yang dikeluarkan untuk proses dimaksud.

Penilaian sumatif dikaitkan dengan penilaian pada akhir semester atau tahun. Penilaian ini memberikan nilai yang membedakan pencapaian seorang dengan lain dan seringkali digunakan untuk membuat pemilihan/penyeleksian.

Penilaian sumatif ialah penilaian yang dibuat pada akhir pengajaran (akhir semester/akhir tahun), yang bertujuan untuk menilai pencapaian akhir pembelajaran. Berbeda dengan penilaian formatif, yang lebih menekankan kepada penilaian penguasaan pelajar dalam suatu materi, penilaian sumatif bertujuan untuk menentukan pencapaian pelajar pada akhir semester/akhir tahun ajaran, yang juga dapat menentukan keberhasilan sesuatu kurikulum. Contoh penilaian sumatif ialah penilaian pada akhir tahun ajaran dalam bentuk Ujian Kenaikan Tingkat/ Ujian Akhir Madrasah.

Sehubungan dengan defenisi di atas, penilaian sumatif lebih menekankan pada hasil dan dilaksanakan satu kali untuk satu semester atau setiap akhir dari suatu program pembelajaran. Hasil penilaian sumatif ini berfungsi untuk grading clacement, promotion, dan accountability. Penilaian jenis ini memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan. Dalam hal motivasi, penilaian jenis ini sangat menguntungkan bagi siswa yang memperoleh prestasi yang tinggi. Sebaliknya, bagi siswa yang memperoleh prestasi yang rendah akan memiliki motivasi yang rendah yaitu rasa pesimis. Secara umum, tujuan penilaian sumatif bukanlah untuk membantu pelajar meningkatkan pencapaian, tetapi untuk memberikan rangking kepada mereka. Rangking yang diperoleh pelajar dapat digunakan untuk membuat perbandingan pencapaian antar pelajar. Penilaian sumatif juga dapat dijadikan petunjuk, apakah siswa dapat menguasai suatu mata pelajaran atau tidak. Jika mereka sudah mencapai peringkat tertentu, barulah mereka dibolehkan untuk mengambil mata pelajaran baru.

Menurut Yatim Riyanto (2009:142) Tahap kegiatan ini dimaksudkan untuk memperoleh balikan tentang hal-hal berikut ini:

1.   Taraf pencapaian tujuan pembelajaran, keseksamaan perumusan tujuan.

2. Kesesuaian antara metode dan teknik peogajaran, dengan sifat bahan pelajaran, tujuan yang ingin dicapai, karakteristik siswa, kemampuan dasar siswa.

3.   Keberhasilan program dalam mencapai tujuan program.

4. Keseksamaan alat evaluasi yang digunakan demgan tujuan pengajaran/tujuan program yang ingin dinilai keberhasilannya.

Sudjana (1995) mengutarakan tujuan penilaian hasil belajar sebagai berikut:

1. Mendeskripsikan kecakapan belajar siswa sehingga dapat diketahui kelebihan dan kekurangannya dalam berbagai bidang studi atau mata pelajaran yang ditempuhnya. Dengan pendeskripsian kecakapan tersebut dapat diketahui pula posisi kemampuan siswa dibandingkan dengan siswa lainnya.

2.   Mengetahui keberhasilan proses pendidikan dan pengajaran di sekolah, yakni seberapa jauh keefektifannya dalam mengubah tingkah laku siswa ke arah tujuan pendidikan yang diharapkan.

3.  Menentukan tindak lanjut hasil penilaian, yakni melakukan perbaikan dan penyempurnaan dalam hal program pendidikan dan pengajaran serta sistem pelaksanaannya.

4. Memberikan pertanggungjawaban (accountability) dari pihak sekolah kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

Karakteristik Penilaian Sumatif

Beberpa ciri khusus terkait dengan penilaian sumatif antara lain sebagi berikut :

1.    Penilaian bersifat terminal/final.

2.    Biasanya berada di penghujung/akhir sebuah program pembelajaran.

3.    Menilai prestasi dalam programnya.

4.    Memberikan keterangan atas sejauh mana capaian seorang siswa dalam kurun waktu tertentu.

5.    Pandangan berlaku surut atas pelajaran apa saja yang telah dicapai selama masa belajar .

6.    Terkadang terkait dengan pemberian sertifikasi, pemberian nilai dan pengakuan publik.

7.    Biasanya merupakan penilaian tipe formal misalnya untuk mengakhiri sebuah tahapan ujian

REFERENSI

 

Degeng, I. Nyoman Sudana, Ilmu Pengajaran Taksonomi Variable, Dirjen Pendidikan Tinggi, Jakarta: 1989

Riyanto, Yatim, Paradigma Baru Pembelajaran, Prenada Media Group, Jakarta: 2009

Sanjaya, Wina, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran, Kencana Prenada Media Group, Jakarta: 2008.

Sudjana, Nana. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, Bandung, Remaja Rosda Karya : 1995.

 

Banyak upaya yang dilakukan ilmuwan pembelajaran dalam mengklasifikasikan variabel dalam

pembelajaran, namun klasifikasi yang nampak lebih rinci dan memadai sebagai landasan

pengembangan suatu teori pembelajaran seperti yang dikemukan Regeluth, dkk (1977).

Klasifikasi variabel-variabel pembelajaran ini dimodifikasi menjadi 3, yaitu:

(1) Kondisi Pembelajaran

(2) Metode Pembelajaran

(3) Hasil Pembelajaran.

1. Kondisi Pembelajaran

Variabel yang termasuk ke dalam kondisi pembelajaran, yaitu variable variabel yang

mempengaruhi penggunaan variabel metode. Oleh karena perhatian kita adalah untuk

mempreskripsikan metode pembelajaran, maka variabel kondisi haruslah yang berinteraksi

dengan metode dan sekaligus berada di luar kontrol perancang pembelajaran. Maksud yang

terpenting dari bahasan ini adalah mengidentifikasi variabel-vriabel kondisi pembelajaran yang

memiliki pengaruh utama pada ketiga variabel metode.

Atas dasar ini, Regeluth dan Merrill (1979) memandang perlu mengelompokkan variabel kondisi

pembelajaran menjadi 3 kelompok yaitu:

(a) Tujuan dan karakteristik bidang studi

(b) Kendala dan karakteristik bidang studi dan

(c) Karakteristik peserta didik .

1. Tujuan pembelajaran

Pernyataan tentang hasil pembelajaran apa yang diharapkan. Tujuan ini bisa sangat umum,

sangat khusus atau dimana saja dalam kontinum umum ke khusus.Karakteristik bidang studi

adalah aspek-aspek suatu bidang studi yang dapat memberikan landasan yang berguna sekali

dalam mempreskripsikan strategi pembelajaran.

1. Kendala

Adalah keterbatasan sumber-sumber, seperti watu, media, personalia, dan uang. Karakteristik

peserta didik adalah aspek-aspek atau kualitas peserta didik, seperti bakat, motivasi, dan hasil

belajar yang telah dimilikinya.

1. Tujuan dan karakteristik bidang studi

Adalah dihipotesiskan memiliki pengaruh utama pada pemilihan strategi pengorganisasian

pembelajaran, kendala dan karakteristik bidang studi pada pemilihan strategi penyampaian, dan

karakteristik siswa pada pemilihan strategi pengelolaan pembelajaran.

Bagaimanapun juga, pada tingkat tertentu, mungkin sekali suatu variabel kondisi akan

mempengaruhi setiap variabel metode misalnya, karakteristik peserta didik bisa mempengaruhi

pemilihan strategi pengorganisasian dan pemilihan strategi penyampaian, di samping pengaruh

utamaya pada strategi pengelolaan pembelajaran.

Metode Pembelajaran

Variabel metode pembelajaran diklasifikasikan lebih lanjut menjadi 3 jenis yaitu:

(a) Strategi pengorganisasian (Organizational srategy)

(b) Strategi penyampaian (Delivery strategy)

(c) Strategi pengelolaan (management strategy).

Organizational srategy adalah metode untuk mengorganissi isi bidang studi yang telah dipilih

untuk pembelajaran. Mengorganisasi mengacu pada suatu tindakan seperti pemilihan isi,

penataan isi, pembuatan diagram, format, dll. yang setingkat dengan itu.

Delivery strategy adalah metode untuk menyampaikan materi pembelajaran kepada peserta didik

dan atau menerima serta merespon masukan yang berasal dari peserta didik. Sumber belajar

merupakan bidang kajian utama dari strategi ini.

Management strategy adalah metode untuk menata interaksi antara peserta didik dan variabel

metode pembelajaran yang lain. Variabel strategi pengorganisasian dan penyampaian isi

pembelajaran. Strategi pengorganisasian pebelajaran dibedakan menjadi strategi

pengorganisasian pada tingkat makro dan mikro.

Hasil Pembelajaran

Pada tingkat yang amat umum sekali, hasil pembelajaran dapat diklasifikasikan menjadi 3, yaitu:

(a) Keefektifan (effectiveneess)

(b) Efisiensi (efficiency)

(c) daya tari pembelajaran.

Keefektifan Pembelajaran, biasanya diukur dengan tingkat pencapaian si-belajar. Ada 4 aspek

penting yang dapat dipakai untuk mempreskripsikan keefektifan pembelajaran yaitu:

(1) kecermatan penguasaan perilaku yang dipelajari atau sering disebut tingkat kesalahan

(2) kecepatan unjuk kerja

3) tingkat alih belajar

(4) tingkat retensi dari apa yang dipelajari.

Efisiensi Pembelajaran, biasanya diukur dengan rasio antara keefektifan dan jumlah waktu

yang dipakai si-belajar dan/atau jumlah biaya pembelajaran yang digunakan.

Daya Tarik Pembelajaran, biasanya diukur dengan mengamati kecenderungan si-belajar untuk

tetap/terus belajar. Daya tarik pembelajaran erat kaitannya dengan daya tarik bidang studi,

dimana kualitas pembelajaran biasanya akan mempengaruhi keduanya. Itulah sebabnya

pengukuran kecenderungan si belajar untuk terus dan atau tidak terus belajar dapat dikaitkan

dengan proses pembelajaran itu sendiri atau dengan bidang studi.

Desain Pembelajaran

Pengembangan instruksional telah menghasilkan berbagai model, tidak semua model itu serupa.

Namun demikian dari berbagai model yang ada setidak-tidaknya pengembangan instruksional

mengandung elemen berikut:

(1) pengumpulan data,

2) penilaian keterampilan-keterampilan masukan,

(3) spesifikasi tujuan-tujuan yang bersifat behavioral atau performance test,

(4) suatu prosedur untuk memilih metode dan penyajian,

(5) Prosedur pelaksanaan, evaluasi dan revisi. Beberapa model pengembangan instruksonal

antara lain model Kemp, Model Instruksional Development Institute (IDI), model Rowntree,

model Gerlach & Ely, model Wittich & Schuller, model Walter Dick & Lou Carey dan masih

banyak model pengembangan instruksional yang lain. Pada pertemuan ini saya coba samapaikan

ancangan sistem pembelajaran Walter Dick & Lou Carey.

Disain ini dipilih karena

(a) ancangan sistem ini adanya fokus pada awal proses, pada apa yang siswa harus tahu atau

mampu lakukan pada waktu berakhirnya program pembelajaran,

(b) ancangan sistem ini adanya pertautan yang seksama antar komponen, khususnya adanya

hubungan antara siasat pembelajaran dan hasil belajar yang dikehendaki,

(c) anacangan ini merupakan proses empirik yang sifatnya dan dapat diulangi-ulangi.

Pembelajaran tidak dirancang untuk sajian sekali saja, tetapi digunakan untuk sebanyak mungkin

siswa, karena dapat dipakai ulang. Adapaun disain tersebut dapat divisualisasikan sebagai

berikut:

(1)Mengidentifikasi tujuan pembelajaran

Langkah pertama dalam model ini ialah menentukan apa yang diinginkan setelah siswa

mengikuti pembelajaran yang dilakukan. Batasan tujuan pembelajaran dapat dijabarkan dari

tujuan umum, dari penilaian kebutuhan berkenaan dengan kurikulum tertentu, dari kesulitan

belajar para siswa berdasarkan pengalaman praktek, dari analisa pekerjaan, atau dari ketentuanketentuan

lain bagi pembelajaran baru.

(2)Melakukan Analisa Pembelajaran .

Setelah mengetahui tujuan pembelajaran, langkah selanjutnya menentukan belajar jenis apa yang

dituntut dari siswa. Tujuan tersebut perlu dianalisis untuk mengenali keterampilan-keterampilan

bawahan/sub ordinat yang mengharuskan siswa belajar menguasainya dan langkah-langkah

prosedural bawahan yang harus diikuti siswa untuk dapat belajar proses tertentu. Proses ini

menghasilkan suatu peta atau bagan yang menggambarkan keterampilan-keterampilan yang

ditemukan dan menunjukkan hubungan-hubungannya.

(3) Mengenali Tingkah Laku Masukan dan Ciri-ciri siswa

Di samping mengenali keterampilan-keterampilan bawahan dan langkah prosedural yang harus

dimasukkan dalam pembelajaran, adalah perlu untuk mengenali keterampilan-keterampilan

tertentu yang dimiliki siswa sebelum pembelajaran dimulai. Ini tidak berarti menyusun daftar

semua hal yang dapat dilakukan siswa, melainkan mengenali keterampilan-keterampilan khusus

tertentu yang siswa harus mampu lakukan untuk memulai pembelajaran. Penting juga untuk

mengenali ciri-ciri khusus tertentu yang dimiliki siswa yang barangkali perlu dipertimbangkan

dalam merancang kegiatan-kegiatan pembelajaran.

(4) Merumuskan Tujuan Performansi

Atas dasar analisis pembelajaran dan keterangan tentang tingkah laku masukan, selanjutnya

menyusun pernyataan spesifik tentang apa yang akan mampu dilakukan siswa ketika

menyelesaikan pembelajaran. Pernyataan yang dijabarkan dari keterampilan-keterampilan yang

dikenali dengan jalan melakukan analisis pembelajaran ini perlu menyebutkan keterampilanketerampilan

yang harus dipelajari (dikuasai) siswa, kondisi perbuatan yang menunjukan

keterampilan itu, dan kreteria bagi unjuk perbuatan (performansi) yang berhasil.

(5) Mengembangkan Butir-butir tes acuan Patokan.

Berdasarkan tujuan khusus yang telah dirumuskan, selanjutnya merumuskan butir-butir penilaian

(assesment) yang sejajar dengan mengukur kemampuan siswa untuk mencapai apa yang

dicantumkan di dalam tujuan. Tekanan utama diletakkan pada mengaitkan macam tingkah laku

yang disebutkan dalam tujuan dengan apa yang diminta dari butir-butir tersebut.

(6) Mengembangkan Siasat Pembelajaran

Dengan adanya keterangan-keterangan yang didapat dari langkah-langkah sebelumnya,

selanjutnya diperlukan untuk mengenali siasat yang dipergunakan dalam pembelajaran dan

menentukan media mana yang cocok untuk digunakan untuk mencapai tujuan akhir. Bagian

siasat pembelajaran mencakup kegiatan: pra pembelajaran, penyajian informasi, latihan dan

balikan, pengetesan, dan kegiatan tindak ikutan. Siasat ini di dasarkan atas hasil-hasil penilaian

tentang belajar yang terbaru, pengetahuan terbaru tentang proses belajar, isi/bahan yang harus

dijabarkan, dan ciri-ciri pribadi siswa yang akan menggunakan material pembelajaran. Sifat-sifat

keadaan ini dipakai untuk mengembangkan atau memilih matrial untuk maksud mengembangkan

suatu siasat bagi pembelajaran kelas interaktif.

(7) Mengembangkan dan Memilih Material Pembelajaran.

Dalam langkah ini menggunakan siasat pembelajaran untuk memproduksi pembelajaran. Pada

langkah ini kegiatannya meliputi buku petunjuk kerja siswa, material pembelajaran, tes dan buku

pegangan guru. Keputusan untuk mengembangkan asli material pembelajaran tergantung pada

jenis belajar yang akan disampaikan, adanya material yang relevan, dan sumber-sumber

pengembantgan yang tersedia. Untuk memilih diantara material-material pembelajaran yang ada

dan akan dipakai sebagai kreterianya.

(8)Merancang dan melakukan Penilaian Formatif

Setelah draf kasar selesai dalam bentuk rencana disusun, langkah selanjutnya melakukan

serangkaian penilaian dengan maksud mengumpulkan data yang digunakan untuk menemukan

cara-cara bagaimana menyempurnakan rencana pembelajaran tersebut. Pada tiga macam

penilaian formatif untuk keperluan ini yaitu: penilaian satu-persatu, penilaian kelompok kecil,

dan penilaian lapangan. Setiap jenis penilaian itu memberikan keterangan yang berlain-lainan

kepada perancang untuk dapat digunakan dalam pembelajaran tersebut. Teknik-teknik yang

serupa dapat diterapkan untuk melakukan penilaian formatif terhadap material atau pembelajaran

di kelas.

(9)MerevisiPembelajaran

Langkkah terakhir (dan merupakan langkah pertama dalam daur ulang) ialah memperbaiki, atau

merevisi pembelajaran. Data yang diperoleh dari penilaian formatif diihtisarkan dan ditafsirkan

sebagai usaha untuk mengenali kesulitan-kesulitan yang dialami para siswa dalam mencapai

tujuan, dan untuk menghubungkan kesulitan-kesulitan ini dengan kekurangan tertentu dalam

pembelajaran. Garis pada gambaran bagan model bernama Merevisi pembelajaran menunjukan

bahwa data dari penilaian formatif tidak semata-mata dipakai untuk merevisi pembelajaran itu

sendiri, tetapi dipakai untuk menguji kembali kesahihan analisis pembelajaran yang dilakukan

dan asumsi-asumsi tentang tingkah laku masukan serta sifat ciri siswa. Perlu juga dikaji ulang

pertanyaan-pertanyaan tujuan performansi dan butir-butir soal tes dengan memperhatikan data

yang terkumpul. Siasat pembelajaran perlu ditinjau kembali dan pada akhirnya semua ini

dipadukan ke dalam upaya revisi pembelajaran untuk menjadikannya alat pembelajaran yang

lebih berhasil guna.

(10)Melakukan Penilaian Sumatif

Adanya garis putus-putus pada gambar bagan model menunjukkan bahwa meskipun penilaian

sumatif itu merupakan penilaian keefektifan pembelajaran, ini umumnya bukan bagian dari

proses perancangan. Penilaian sumatif merupakan penilaian atau harga pembelajaran yang

mutlak dan atau nisbi, dan dilakukan hanya setelah pembelajaran itu mengalami penilaian

formatif serta direvisi dengan mestinya untuk memenuhi patokan yang ditetapkan perancangnya.

Karena pelaksanaan penilaian sumatif itu biasanya tidak melibatkan perancang pembelajaran,

tetapi sesungguhnya melibatkan evaluator yang independen, maka komponen ini tidak dipandang

bagian terpadu dari proses perancangan pembelajaran itu sendiri.

 

STRATEGI PEMBELAJARAN

Dalam mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Kompetensi, E. Mulyasa (2003) mengetengahkan lima strategi pembelajaran yang dianggap sesuai dengan tuntutan Kurikukum Berbasis Kompetensi; yaitu : (1) Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching Learning); (2) Bermain Peran (Role Playing); (3) Pembelajaran Partisipatif (Participative Teaching and Learning); (4) Belajar Tuntas (Mastery Learning); dan (5) Pembelajaran dengan Modul (Modular Instruction). Sementara itu, Gulo (2005) memandang pentingnya strategi pembelajaran inkuiri (inquiry).

Di bawah ini akan diuraikan secara singkat dari masing-masing strategi pembelajaran tersebut.

1. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching Learning)

Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching Learning) atau biasa disingkat CTL merupakan konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan nyata, sehingga peserta didik mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pembelajaran kontekstual, tugas guru adalah memberikan kemudahan belajar kepada peserta didik, dengan menyediakan berbagai sarana dan sumber belajar yang memadai. Guru bukan hanya menyampaikan materi pembelajaran yang berupa hapalan, tetapi mengatur lingkungan dan strategi pembelajaran yang memungkinkan peserta didik belajar.

Dengan mengutip pemikiran Zahorik, E. Mulyasa (2003) mengemukakan lima elemen yang harus diperhatikan dalam pembelajaran kontekstual, yaitu :

  1. Pembelajaran harus memperhatikan pengetahuan yang sudah dimiliki oleh peserta didik
  2. Pembelajaran dimulai dari keseluruhan (global) menuju bagian-bagiannya secara khusus (dari umum ke khusus)
  3. Pembelajaran harus ditekankan pada pemahaman, dengan cara: (a) menyusun konsep sementara; (b) melakukan sharing untuk memperoleh masukan dan tanggapan dari orang lain; dan (c) merevisi dan mengembangkan konsep.
  4. Pembelajaran ditekankan pada upaya mempraktekan secara langsung apa-apa yang dipelajari.
  5. Adanya refleksi terhadap strategi pembelajaran dan pengembangan pengetahuan yang dipelajari.

2. Bermain Peran (Role Playing)

Bermain peran merupakan salah satu model pembelajaran yang diarahkan pada upaya pemecahan masalah-masalah yang berkaitan dengan hubungan antarmanusia (interpersonal relationship), terutama yang menyangkut kehidupan peserta didik.

Pengalaman belajar yang diperoleh dari metode ini meliputi, kemampuan kerjasama, komunikatif, dan menginterprestasikan suatu kejadian

Melalui bermain peran, peserta didik mencoba mengeksplorasi hubungan-hubungan antarmanusia dengan cara memperagakan dan mendiskusikannya, sehingga secara bersama-sama para peserta didik dapat mengeksplorasi parasaan-perasaan, sikap-sikap, nilai-nilai, dan berbagai strategi pemecahan masalah.

Dengan mengutip dari Shaftel dan Shaftel, E. Mulyasa (2003) mengemukakan tahapan pembelajaran bermain peran meliputi : (1) menghangatkan suasana dan memotivasi peserta didik; (2) memilih peran; (3) menyusun tahap-tahap peran; (4) menyiapkan pengamat; (5) menyiapkan pengamat; (6) tahap pemeranan; (7) diskusi dan evaluasi tahap diskusi dan evaluasi tahap I ; (8) pemeranan ulang; dan (9) diskusi dan evaluasi tahap II; dan (10) membagi pengalaman dan pengambilan keputusan.

3. Pembelajaran Partisipatif (Participative Teaching and Learning)

Pembelajaran Partisipatif (Participative Teaching and Learning) merupakan model pembelajaran dengan melibatkan peserta didik secara aktif dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Dengan meminjam pemikiran Knowles, (E.Mulyasa,2003) menyebutkan indikator pembelajaran partsipatif, yaitu : (1) adanya keterlibatan emosional dan mental peserta didik; (2) adanya kesediaan peserta didik untuk memberikan kontribusi dalam pencapaian tujuan; (3) dalam kegiatan belajar terdapat hal yang menguntungkan peserta didik.

Pengembangan pembelajaran partisipatif dilakukan dengan prosedur berikut:

  1. Menciptakan suasana yang mendorong peserta didik siap belajar.
  2. Membantu peserta didik menyusun kelompok, agar siap belajar dan membelajarkan
  3. Membantu peserta didik untuk mendiagnosis dan menemukan kebutuhan belajarnya.
  4. Membantu peserta didik menyusun tujuan belajar.
  5. Membantu peserta didik merancang pola-pola pengalaman belajar.
  6. Membantu peserta didik melakukan kegiatan belajar.
  7. Membantu peserta didik melakukan evaluasi diri terhadap proses dan hasil belajar.

4. Belajar Tuntas (Mastery Learning)

Belajar tuntas berasumsi bahwa di dalam kondisi yang tepat semua peserta didik mampu belajar dengan baik, dan memperoleh hasil yang maksimal terhadap seluruh materi yang dipelajari. Agar semua peserta didik memperoleh hasil belajar secara maksimal, pembelajaran harus dilaksanakan dengan sistematis. Kesistematisan akan tercermin dari strategi pembelajaran yang dilaksanakan, terutama dalam mengorganisir tujuan dan bahan belajar, melaksanakan evaluasi dan memberikan bimbingan terhadap peserta didik yang gagal mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Tujuan pembelajaran harus diorganisir secara spesifik untuk memudahkan pengecekan hasil belajar, bahan perlu dijabarkan menjadi satuan-satuan belajar tertentu,dan penguasaan bahan yang lengkap untuk semua tujuan setiap satuan belajar dituntut dari para peserta didik sebelum proses belajar melangkah pada tahap berikutnya. Evaluasi yang dilaksanakan setelah para peserta didik menyelesaikan suatu kegiatan belajar tertentu merupakan dasar untuk memperoleh balikan (feedback). Tujuan utama evaluasi adalah memperoleh informasi tentang pencapaian tujuan dan penguasaan bahan oleh peserta didik. Hasil evaluasi digunakan untuk menentukan dimana dan dalam hal apa para peserta didik perlu memperoleh bimbingan dalam mencapai tujuan, sehinga seluruh peserta didik dapat mencapai tujuan ,dan menguasai bahan belajar secara maksimal (belajar tuntas).

Strategi belajar tuntas dapat dibedakan dari pengajaran non belajar tuntas dalam hal berikut : (1) pelaksanaan tes secara teratur untuk memperoleh balikan terhadap bahan yang diajarkan sebagai alat untuk mendiagnosa kemajuan (diagnostic progress test); (2) peserta didik baru dapat melangkah pada pelajaran berikutnya setelah ia benar-benar menguasai bahan pelajaran sebelumnya sesuai dengan patokan yang ditentukan; dan (3) pelayanan bimbingan dan konseling terhadap peserta didik yang gagal mencapai taraf penguasaan penuh, melalui pengajaran remedial (pengajaran korektif).

Strategi belajar tuntas dikembangkan oleh Bloom, meliputi tiga bagian, yaitu: (1) mengidentifikasi pra-kondisi; (2) mengembangkan prosedur operasional dan hasil belajar; dan (3c) implementasi dalam pembelajaran klasikal dengan memberikan “bumbu” untuk menyesuaikan dengan kemampuan individual, yang meliputi : (1) corrective technique yaitu semacam pengajaran remedial, yang dilakukan memberikan pengajaran terhadap tujuan yang gagal dicapai peserta didik, dengan prosedur dan metode yang berbeda dari sebelumnya; dan (2) memberikan tambahan waktu kepada peserta didik yang membutuhkan (sebelum menguasai bahan secara tuntas).

Di samping implementasi dalam pembelajaran secara klasikal, belajar tuntas banyak diimplementasikan dalam pembelajaran individual. Sistem belajar tuntas mencapai hasil yang optimal ketika ditunjang oleh sejumlah media, baik hardware maupun software, termasuk penggunaan komputer (internet) untuk mengefektifkan proses belajar.

5. Pembelajaran dengan Modul (Modular Instruction)

Modul adalah suatu proses pembelajaran mengenai suatu satuan bahasan tertentu yang disusun secara sistematis, operasional dan terarah untuk digunakan oleh peserta didik, disertai dengan pedoman penggunaannya untuk para guru.

Pembelajaran dengan sistem modul memiliki karakteristik sebagai berikut:

  1. Setiap modul harus memberikan informasi dan petunjuk pelaksanaan yang jelas tentang apa yang harus dilakukan oleh peserta didik, bagaimana melakukan, dan sumber belajar apa yang harus digunakan.
  2. Modul meripakan pembelajaran individual, sehingga mengupayakan untuk melibatkan sebanyak mungkin karakteristik peserta didik. Dalam setiap modul harus : (1) memungkinkan peserta didik mengalami kemajuan belajar sesuai dengan kemampuannya; (2) memungkinkan peserta didik mengukur kemajuan belajar yang telah diperoleh; dan (3) memfokuskan peserta didik pada tujuan pembelajaran yang spesifik dan dapat diukur.
  3. Pengalaman belajar dalam modul disediakan untuk membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran seefektif dan seefisien mungkin, serta memungkinkan peserta didik untuk melakukan pembelajaran secara aktif, tidak sekedar membaca dan mendengar tapi lebih dari itu, modul memberikan kesempatan untuk bermain peran (role playing), simulasi dan berdiskusi.
  4. Materi pembelajaran disajikan secara logis dan sistematis, sehingga peserta didik dapat menngetahui kapan dia memulai dan mengakhiri suatu modul, serta tidak menimbulkan pertanyaaan mengenai apa yang harus dilakukan atau dipelajari.
  5. Setiap modul memiliki mekanisme untuk mengukur pencapaian tujuan belajar peserta didik, terutama untuk memberikan umpan balik bagi peserta didik dalam mencapai ketuntasan belajar.

Pada umumnya pembelajaran dengan sistem modul akan melibatkan beberapa komponen, diantaranya : (1) lembar kegiatan peserta didik; (2) lembar kerja; (3) kunci lembar kerja; (4) lembar soal; (5) lembar jawaban dan (6) kunci jawaban.

Komponen-komponen tersebut dikemas dalam format modul, sebagai beriku:

  1. Pendahuluan; yang berisi deskripsi umum, seperti materi yang disajikan, pengetahuan, keterampilan dan sikap yang akan dicapai setelah belajar, termasuk kemampuan awal yang harus dimiliki untuk mempelajari modul tersebut.
  2. Tujuan Pembelajaran; berisi tujuan pembelajaran khusus yang harus dicapai peserta didik, setelah mempelajari modul. Dalam bagian ini dimuat pula tujuan terminal dan tujuan akhir, serta kondisi untuk mencapai tujuan.
  3. Tes Awal; yang digunakan untuk menetapkan posisi peserta didik dan mengetahui kemampuan awalnya, untuk menentukan darimana ia harus memulai belajar, dan apakah perlu untuk mempelajari atau tidak modul tersebut.
  4. Pengalaman Belajar; yang berisi rincian materi untuk setiap tujuan pembelajaran khusus, diikuti dengan penilaian formatif sebagai balikan bagi peserta didik tentang tujuan belajar yang dicapainya.
  5. Sumber Belajar; berisi tentang sumber-sumber belajar yang dapat ditelusuri dan digunakan oleh peserta didik.
  6. Tes Akhir; instrumen yang digunakan dalam tes akhir sama dengan yang digunakan pada tes awal, hanya lebih difokuskan pada tujuan terminal setiap modul

Tugas utama guru dalam pembelajaran sistem modul adalah mengorganisasikan dan mengatur proses belajar, antara lain : (1) menyiapkan situasi pembelajaran yang kondusif; (2) membantu peserta didik yang mengalami kesulitan dalam memahami isi modul atau pelaksanaan tugas; (3) melaksanakan penelitian terhadap setiap peserta didik.

6. Pembelajaran Inkuiri

Pembelajaran inkuiri merupakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki sesuatu (benda, manusia atau peristiwa) secara sistematis, kritis, logis, analitis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.

Joyce (Gulo, 2005) mengemukakan kondisi- kondisi umum yang merupakan syarat bagi timbulnya kegiatan inkuiri bagi siswa, yaitu: (1) aspek sosial di dalam kelas dan suasana bebas-terbuka dan permisif yang mengundang siswa berdiskusi; (2) berfokus pada hipotesis yang perlu diuji kebenarannya; dan (3) penggunaan fakta sebagai evidensi dan di dalam proses pembelajaran dibicarakan validitas dan reliabilitas tentang fakta, sebagaimana lazimnya dalam pengujian hipotesis,

Proses inkuiri dilakukan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut:

  1. Merumuskan masalah; kemampuan yang dituntut adalah : (a) kesadaran terhadap masalah; (b) melihat pentingnya masalah dan (c) merumuskan masalah.
  2. Mengembangkan hipotesis; kemampuan yang dituntut dalam mengembangkan hipotesis ini adalah : (a) menguji dan menggolongkan data yang dapat diperoleh; (b) melihat dan merumuskan hubungan yang ada secara logis; dan merumuskan hipotesis.
  3. Menguji jawaban tentatif; kemampuan yang dituntut adalah : (a) merakit peristiwa, terdiri dari : mengidentifikasi peristiwa yang dibutuhkan, mengumpulkan data, dan mengevaluasi data; (b) menyusun data, terdiri dari : mentranslasikan data, menginterpretasikan data dan mengkasifikasikan data.; (c) analisis data, terdiri dari : melihat hubungan, mencatat persamaan dan perbedaan, dan mengidentifikasikan trend, sekuensi, dan keteraturan.
  4. Menarik kesimpulan; kemampuan yang dituntut adalah: (a) mencari pola dan makna hubungan; dan (b) merumuskan kesimpulan
  5. Menerapkan kesimpulan dan generalisasi

Guru dalam mengembangkan sikap inkuiri di kelas mempunyai peranan sebagai konselor, konsultan, teman yang kritis dan fasilitator. Ia harus dapat membimbing dan merefleksikan pengalaman kelompok, serta memberi kemudahan bagi kerja kelompok.

Sumber :

Abu Ahmadi dan Joko Tri Prasetya. Strategi Belajar Mengajar. Bandung : Pustaka Setia

E. Mulyasa.2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Konsep; Karakteristik dan Implementasi. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya.

_________. 2004. Implementasi Kurikulum 2004; Panduan Pembelajaran KBK. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya.

Udin S. Winataputra, dkk. 2003. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Pusat Penerbitan Universitas Terbuka

W. Gulo. 2005. Strategi Belajar Mengajar Jakarta :. Grasindo.

Awan Tag